MASRIADI SAMBO | Saya dilahirkan dengan nama Masriadi. Dari ayah Zainal Abidin Sambo Bin Gombol. Ibu Siti Rahimah Binti Usman. Lahir di Kuta Cane Lama, 15 Desember 1985. Kata emakku, saat itu mati listrik dan air Sungai Bulan meluber ke seluruh kampung.

Sehingga, kata saudaraku lainnya, wajar saja, kulitku gelap. Menamatkan pendidikan dasar di SD Negeri Blang Siren. Sekarang nama sekolah ini SD Negeri 4 Pirak Timu di Desa Serdang, Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara. Letaknya jauh ke pedalaman. Berbatasan langsung dengan gunung dan hutan belantara. Ini area dimana pahlawan nasional – Cut Meutia—berjuang melawan Belanda.

Lalu melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Matangkuli. Letaknya di Desa Punti, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara. Dari rumah ke SMP ini mengayuh sepeda butut. Maka, celana biru ku, pantatnya lebih cepat rusak dibanding paha. Ini perjuangan yang berat. Mengayuh sepeda sekitar satu jam dari rumah ke sekolah.

Lalu pindah ke SMK Negeri 1 Kuta Cane. Letaknya di Desa Bambel, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara. Berada di kompleks pelajar bumi sepakat segenep itu. Tiga tahun di sana.

Setelah SMK, saya tidak ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi berjualan di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Di dataran tinggi itu, aku ingin mengabdi pada kopi. Namun, emakku melarang. Wajib pulang ke Aceh Utara dan melanjutkan pendidikan tinggi.

Pilihannya ya Universitas Malikussaleh (Unimal). Menyelesaikan pendidikan sarjana Ilmu Komunikasi. Saat tamat, aku masih memegang gelar Sarjana Sosial (S.Sos). Anak zaman sekarang sudah menggunakan Sarjana Ilmu Komunikasi (S.Ikom).

Sehari sebelum wisuda, persis saat antre pengambilan toga, resmi bekerja sebagai jurnalis di Harian Serambi Indonesia. Kuminta Bang Bukhari, Sekretaris Redaksi Serambi Indonesia, agar efektif bekerja setelah wisuda. Bukan pada hari itu juga. Bang Bukhari meng-iya-kan.

Sembari bekerja di Serambi Indonesia, kuliah di program magister Komunikasi Islam, IAIN Lhokseumawe. Dulu, namanya STAIN Malikussaleh.

Lalu, memutuskan mundur dari Serambi Indonesia dengan penempatan akhir di Kota Sabang, 2013. Awal 2014 kembali ke kampus. Kali ini sebagai dosen tetap non PNS. Tak lama, bergabung ke Kompas.com hingga kini. Menjadi kontributor untuk Kompas dari Lhokseumawe hingga Aceh Singkil haha.

Sehari-hari lebih banyak di warung kopi. Menikmati kopi, menulis apa saja sesukanya, seenaknya. Sejauh ini telah menulis beberapa buku dan novel, diantaranya Cinta Kala Perang, Cinta Yang Hilang, Pengantar Jurnalisme Multiplatform, Media Relations Kontemporer.

Aktif menjadi pembicara untuk tema jurnalisme, komunikasi massa dan politik. Menjadi peneliti tetap di Integrity, sebuah lembaga swadaya masyarakat berbasis di Lhokseumawe. Sejak tahun 2005 hingga kini, menulis esei, artikel, cerita pendek, buku, buku biografi, buku ilmiah dan novel.

Bisa dihubungi lewat dimas[at]unimal.ac.id